14.11.11

DOSA

Berat dan sangat abstrak. Tanduk dan Agung sedang bertarung untuk penyelamatan logika.
Semoga tidak terjadi pengulangan untuk penunjukkan bahwa Supernova memang terkuat.
Menyadari logika masih terbuka dengan surga menyapa di alam sana berirama.
Kepercayaan akan istilah kata maaf akan terus berlanjut. Dimana terus berhantam dengan kata sial.
Air basahi rupa dengan kesadaran di bawah lapang runtuh. Terus mengayuh lesuh. Sangat tak terasuh.
Maafkan Agung. Selamatlah Tanduk Kau girang dan terus menyerang. Supernova gerang tak berlapang.
Ini hanya pembuktiannya. Sang Supernova puja Agung segalanya. Tetap dan akan selamanya.
Tanduk, mengajarkan. Pemicu sesat namun tak kasat. Sayang, Supernova tetap realigi semasanya.


11/5/2011 - VERT
"Mencoba bukan berarti terjerumus. Mengalami bukan berarti akan jadikan rumus."

IMPLISIT

"Hai, di sini suram beradu buram. Lalu kelam. Kamu? Hey, sadarlah! Ini sangat seram hingga mencekam di makam sang Penerkam! Tolong, siapa pun selamatkanlah aku dari hisapan kubangan hitam!"


Perkenalkan, ini Aku. Aku terserang godaan dunia. Ini tidak universal. Para awam pun tidak akan mengerti dan pasti lebih baik bunuh diri dalamdurhakanya kecongkakan.

Aku hanya memiliki satu sahabat. Satu saja. Itu pun cukup.Dia tak berperasa, tak berlogika, tak berkasat mata dan tak ada materi. Abstrak, kosong, nol, dan ringan. Tidak terwujud namun terbentuk. Dibentuk karena hasrat berombak.

Biarlah hanya dia, teruntuk yang -bila-memang-ada- melaknat untuk berdurja padaku. Tapi inilah sahabatku. Bukan dia, dia atau pun dia. Dia yang aku tetapkan setelah 2 fase. Mari, aku perkenalkan sahabatku, dia bernama SKEPTIS.



"Pencarian-Pemilihan-Penetapan" | V E R T

12.11.11

JUDIS

"Dusta adalah kekuatan untuk menutupi kebenaran. Dusta adalah kebenaran untuk menutupi kekalahan."

Mahkota tersandar, tanda aku yang berkuasa. Kuat hancurkan masa dalam beberapa kata. Menjadi rancu yang berbentuk racun untuk bunuh logika sekitar. Tidak usah berhati-hati. Aku akan berada di sisi kirimu sebagai sahabat tak kasat.

Rantai terpampang. Berbesi karat, buat kamu sekalian sekarat. Tanda aku yang menyiksa. Perasaan tertusuk dari sisi belakang. Sisi depan hanyalah belaka. Menutup geraman. Menutup serangan. Hanyalah topeng semata dengan kecantikan membinasa.

"Khianat itu dibenarkan untuk penggores kesatuan. Berbahagialah kalian yang memiliki Agung. Keyakinanmu itulah kelemahanku."

Libra bergores. Cancer berhuruf. | V E R T

9.11.11

Manusia dan Dunia

“0 (embrio), 2(tumbuh), 1 (dewasa). Menjadi 'satu' itulah yang tersulit. Tidak bisa memilih satu dari dua pilihan, belum bernama bijak.”

Manusia memang rumit. Rumit diberi agar logika terolah. Pemanfaatan kecerdasan akan terpakai bila pengendalian diri teratur. Banyak akan terjadi alur dengan kata 'kenapa'. Jika tidak timbul pertanyaan, manusia tidak akan terpicu untuk belajar dengan segala hal.

Setiap manusia diyakini punya sesuatu yang membunuh namun menenangkan. Kenapa? Tidak selamanya sesuatu yang 'selalu baik' buat mereka puas. Hanya mencoba bersyukur saja terkadang berat. Apalagi untuk selalu menerimakan sesuatu yang datang-pergi dari diri dan sekitar.

Tercipta kata 'sementara' agar semua diberi batas. Sejujurnya. Jika tidak ada 'sementara', 'kesempatan' tidak akan ada. Kerumitan ini hanyalah sementara. Diyakini jawaban ada pada diri. Dari proses yang akan berkesempatan, namun kembali lagi pada jalan-Nya.

Semakin cerdas, tingkat ketidakpuasan akan semakin tinggi. Butuh pengendalian keseimbangan dua sisi. Proses akan menjadi utama daripada hasil. Perjalanan dari proses lah yang akan menjadi guru untuk diri. Timbullah pengalaman

Antonim akan selalu ada dalam kehidupan. Beralasan, itulah sebenarnya pemicu agar manusia selalu mencari & menyelesaikan antonim didepannya. Memang terkadang dan selalu monoton. Lawannya? Adalah kata 'beda'. Itu yang akan mengalahkan monoton.

Selalu ingat dengan 'sebab-akibat'. Atau mengrti dengan makna 'iya-tidak'. Kita memilih, lalu menjalankan. Selanjutnya memahami. Pertanyaan dari diri, akan terjawab sendiri. Jawaban ada pada pilihan diri sendiri.

“Tantangan tertinggi di dunia: Menciptakan, menjalankan dan memberikan keseimbangan dengan diri dan sekitar.”


Rumit sedang memperkosa. Dilema sedang perkasa. | V E R T

3.11.11

Labirin Bilur

Labirin egosentris persefektifnya mengundang gulana.
Pijakan satu titik alur tak beratur. Kemana harus diulang dalam mencari tujuan.
Reaksi fasis terjadi ketika dogma berbentur dengan firasat.
Perasaan retak dengan Agung akibat pematahan logika.
Apa yang menjadi angka satu kini dalam sisi tengahnya?
Tidak tertutup kemungkinan sang Zionis kini tak berupa.
Apakah labirin itu, menyesakkan yang kini dipijaki.
Tak ada kehampaan mempositifkan magnum magnetik realiginya.
Berangka nol kini simpulan akhirnya tak bercahaya.
Hey, alurnya ak bersenyawa, tak bernada, mungkin terlupa.
Lambat tanpa kepastian sampai tertukar dengan kepercayaan.
Labirin ini sesat, sesak, dan serak membakar dogma pada diri.
Persefektifnya hanya pandangan dengan kurang kondusif.
Jatuh dalam alunan roda memutar tanpa hilang arah.
Zionis berada dalam alur neraka, berserakah tidak ramah.
Fasisnya beradu dengan egosentris hingga hilang estetis.
Terekam sekarang dibalik jalan labirin tanpa bertemu ujung.
Bunuh sendiri tanpa dogma lagi dalam hati.
Rasakan akibat, pikirkan sebab sungguh bodohnya.
Itulah karma, Agung beraroma berkasih nyata sebenarnya.
Mati dalam labirin abstraktis hilang mengapung statis.

Hari ganjil di awal November, bosan sedang bersapa. | V E R T