24.11.11

Karena Kamu Cantik

Kamu cantik, karena kamu pelangi.
Kamu cantik, karena kamu hati
Kamu cantik, karena kamu kunci

Kamu cantik, karena kamu setengah
Kamu cantik, karena kamu sebagian
Kamu cantik, karena kamu abu

24 November 2011, saya dan anda sebagai penjaga. | V E R T

22.11.11

Jatuh Cinta Sebenarnya Biasa

Jatuh cinta sangat tak terasa
Untuk Anda yang berpeluh asa
Karena belum pernah bisa merasa
Kreasi Tuhan yang sering makhluk rasa

Jatuh cinta memang luar biasa
Ketika lawan jenis berperasa
Saat itulah mereka memakai rasa
Sebagai pengubur putus asa

Jatuh cinta sebenarnya biasa.
Tak perlu bermati rasa.
Karena sebenarnya mereka bisa
Memerdekakan apa yang tak biasa.

Sangat tidak biasa dengan dia yang dirasa memang sangat luar biasa.  |  V E R T

19.11.11

Para Pemicu

Ini tulisan saya yang sangat berbeda diantara semua tulisan yang pernah saya publish. Yah, sesekali bolelah menulis yang 'agak' membuka rahasia tentang siapa saja 'mereka-mereka' yang telah memicu saya dari awal hingga masanya sekarang untuk berproduktif dalam merangkai huruf dan sangat berpengaruh pada seorang Dzikry Puji Gustina hingga di masa kini.

Baiklah pembaca maya sekalian, mari langsung kita lihat semua sosok itu satu persatu.

1. Fitria Zackia
Aries, April 17th 1991

Sahabat yang paling sayang & peduli diantara semua sahabat perempuan terdekat yang berada di sekeliling saya. Kakak sekaligus 'wanita' yang sangat berteka-teki.
Dengannya sudah bersahabat dari 12 tahun lalu, tepatnya dimulai sejak duduk di kelas 3 SD. Dulu saat masih bocah-bocahnya kami sering tukar menukar diary kami. Saling membaca apa isi diary kami tanpa ada rahasia. Dari kebiasaan itulah, hingga kini saya menjadi terbiasa menulis meskipun sudah tidak di media 'buku harian' lagi. Terima kasih Kakak Misterius \m/

2. Wiwan Saeful Ridwan
Leo, 27 Juli 1985
Rasanya ingin tertawa mengingat tepat di umur 13 tahun saya pertama kalinya tahu dan merasakan suka pada lawan jenis. Sering dan banyak sekali yang menyebut rasa suka saya pada lelaki yang berbeda usia 6th ini adalah cinta monyet. Apa pun sebutannya, saya bersyukur bisa diberi rasa suka pada lelaki sastra inggris ini. Toh saya tidak sia-sia selama 3 tahun menjadi secret admirer si Pangeran Picisan ini, hasilnya saya mampu untuk terus bisa berpuisi dalam diary di masa sekolah menengah pertama saya *uhuk ;))

3. Riski Purnama
Libra, 28 September 1987
Ini? Ekhem, mantan yang sangat sangat sangaaat paling berpengaruh besar terhadap segala perubahan yang ada pada diri saya. Mantan yang paling sangat berkesan di antara semua mantan. Kekasih pertama yang memberikan banyak pelajaran, hingga saya mengerti untuk pertama kalinya sosok 'lelaki' itu seperti apa. 3 tahun saya membuat kisah yang berliuk, berombak dan berpuyuh. Kisah kami tidak selurus yang sekitar lihat karena kami berhubungan lama atau apa pun itu persepsinya. Setiap kisahnya saya tuangkan pada buku harian yang tentunya hanya saya sendiri yang tahu. Khusus untuk buku tentang saya dengan kisahnya tidak saya buka setiap helainya pada siapa pun dan termasuk pada dia sendiri. Dia selalu membimbing ke setiap 'dunia' baru, buat saya semakin cerdas, berwawasan, dan dia mengawali di antara semua yang membuat saya yang awam menjadi 'sesuatu'. Terima kasih, kamu akan terus saya kenang sebagai Pintu :)

4. Ari Sukma Adji
Libra, 21 Oktober 1988
Nah, ini mantan yang paling bijak, motivator dan tentunya pintar. Dia pintar memicu dan mengubah saya yang emosional menjadi lebih terkendali dalam berpikir dan beridealisme. Sebelumnya saya yang sangat kekanakan kini jadi lebih cerdas untuk tahu bagaimana menjadi bijak untuk menolong sekitar. Hingga memicu saya untuk berkesenian dan menulis seperti sekarang, dialah pelaku utamanya! Terima kasih Professor! Hubungan kita yang kandas beberapa bulan lalu akan terus saya jadikan pelajaran :">

5. Wildan Maulana
Sagitarius, 23 November 1990

Tepat di tanggal 18 September saya terima permintaan pertemanan dia di sebuah jejaring sosial biru. Sedikit ada peraduan di awal lembaran kisah, tapi setelah waktu beralur dan terus berbaur terjadi suatu penyatuan antara abu dan hijau. Selalu dan selalu abstraksi hadir di antara kami. Yah, saya menikmati karena saya suka dan akan terus 'membuka' selama sosok monokrom ini terus buat pipi saya merah atau guling-guling depan monitor. Dia salah satu pemicu yang dulunya saya hanya hanya ingin 'diam', kini memunculkan sosok Hijau yang semakin 'hijau'. Rasanya memang asik dipicu seorang 'hama', tapi di antara kedua sisi saya memilih dia sebagai 'pupuk' untuk pohon imaji saya. Terima kasih Tuan Abu :-"

6. PENCIPTA
----------------

Bagi kalian yang percaya akan adanya dia, saya mungkin tidak perlu menjelaskan lagi. Dia sangat berpengaruh untuk kehidupan saya, kamu, anda, dia dan sekitar. Semuanya. Dia yang menciptakan saya otak, tangan, dan segala organ tubuh yang dapat membantu saya untuk berproduktif. Saya tidak akan menyiakan apa yang sudah tercipta dan dicipta. Sangat berterima kasih amat sangat, syukur akan terus saya lontarkan dan lakukan sebagai kewajiban. Kamu yang paling nomor satu diantara semua pemicu. Karena kamu, saya dipertemukan dengan mereka yang sengaja maupun tidak telah memicu saya menjadi lebih yang terbaik dari seorang Dzikry Puji Gustina. Terima kasih seperti apa pun kamu, saya sayang kamu :*

18.11.11

ADU diantara DUA

Semakin dini hari semakin otak kanan saya bangun dari hibernasi panjang. Entah hari ini sedang ada apa dan sedang bagaimana, emosi pun kembali bangun. Padahal dia tidak pernah hibernasi, namun selalu tegak berdiri bisa dikatakan iya. Emosi selalu bangun dan dia tidak pernah tidur ketika apa pun. Sangat hebat.

Berbeda dangan otak kanan, idealisme dan ideologi yang saya butuhkan kadang mereka sedang lelah dan sedang tertidur di bawah pohon imaji yang sudah lama dibangun. Hingga kini pohon tersebut masih terus tumbuh di alam bawah kedua otak kanan & otak kiri saya.

Dini hari ini ide kembali mengejar saya, hingga mengetuk keras otak kanan saya. Saya hanya bertepuk tangan dan tersenyum berombak tanda saya siap 'berbicara'. Entah miris atau tidak, tapi berbicara dengan kepingan huruf pun saya sudah berjingkrak.

Kini ide itu berceloteh tentang antonim disekitar. Situasi yang sering beradu. Adu apa pun itu. Adu mulut, adu otak hingga sebuah adu yang sedang terjadi sebelum menulis ini, adu persepsi dan opini suatu hal. Yah, itu memang sering terjadi di sekitar, maya atau pun nyata.

Kadang manusia yang entah harus menggambarkannya seperti apa, mereka sering dirajai oleh yang namanya emosi dan persefektif egosentris. Tapi saya memilih dari ke dua sisi, emosi dan egosentris saya gunakan untuk mengalahkan. Saya tidak menganggap mereka dari kedua itu sebagai 'raja' tapi mereka adalah budak saya. Budak untuk mengalah mereka yang terus menyerang idealisme dan ideologi saya.

Tapi saya tersadar, sebenarnya saya lebih merajakan logika. Dia yang dapat menyadarkan ketika saya yang sedang dibunuh oleh emosi dan egosentris. Logika mengajarkan saya untuk SEIMBANG seperti angka DUA yang saya kagumi.

Ketika dia, mereka dan mungkin kamu, menyerang idealisme dan ideologi saya, maka saya lebih baik mengakhiri dan tidak ingin terlibat kembali dalam perdebatan, meskipun saya picik 'saya-tidak-ingin-kalah', tapi baiknya saya tidak memilih dengan beberapa opini yang diberikan dalam suatu perdebatan.

Saya lebih baik mengalah yang bermakna bukan kalah. Mengalah pada saatnya saya merasa saya harus diam mengakhiri perdebatan dan tetap yakin berpegang teguh bahwa opini dan persepsi yang saya angkat adalah yang saya percaya. Saya menyanjung kebebasan. Tentunya kebebasan yang buat kedua belah pihak nyaman dengan arti bebasnya berpendapat, berproduktif untuk berbicara dan dapat bertanggung jawab atas kepercayaan yang keduanya yakini.

Peraduan seperti itu tidak akan hilang dan tidak akan pernah padam di sekitar saya beserta dia, kamu dan mereka. Saya menikmati segala perbedaan yang ada. Saya senang untuk menghargai setiap pendapat yang muntah ditelinga dan otak saya. Saya bahagia untuk memahami dan menghormati setiap perbedaan opini, persepsi dan prinsip setiap masing-masing pribadi.

Diantara semua peraduan itu saya terus pertekan, saya akan tetap dikelilingi angka dua. Saya tidak akan memilih untuk beradu. Saya akan menjadi dua untuk mengalah daripada terus bermulut! Saya senang menjadi pribadi merdeka tanpa harus memojokkan akan kekurangan dari pendapat masing-masing. Semuanya memiliki dua sisi atas semua persepsi universal yang dilontarkan. Saya percaya itu. Sangat percaya....

Kini ide sedang girang saya beri segelas kopi. | V E R T

16.11.11

ROMANSA

Kasih & kekasih selalu saling perkosa diri.
Ketika dilanda balada yang jujurnya tak mengada, maka mereka ada terjun dalam lubuk dada.
Romantis adalah hilangnya miris pada cumbuan pemuda & pemudi.
Disadari itulah surgawi duniawi.

Romansa saling merasa ketika berdansa tanpa peluh asa.
Inilah sempurna di antara makna penyatuan 'dua'.
Belum berani berkata cinta karena dusta terus tertata.
Seiring bertatapnya mata, semoga di akhirnya, mampu saling berkata.

Biarkan lawan jenis saling beradu.
Memaknai angka dua sebagai penyatuan.
Menghargai angka dua sebagai penggabungan.

Senandung lagu menjadi serdadu
Untuk perjalanan 2 lawan jenis itu.
Terus berjalan & nikmati perjalanan bersama karya ambigu.

"Kamu adalah kepingan dari kejahatan dunia.", lirih Perempuan.
"Kamu adalah pecahan dari hitungan teka-teki!", seru Lelaki.
"Kita selalu berada dalam sekitar sajak." kata Perempuan.
"Kita suatu saat akan meninggalkan jejak." kata Lelaki.

"Kamu abu. Terbangkan aku bila mampu." bisik Perempuan.
"Kamu hijau. Tenangkan aku hingga mendayu." bisik Lelaki.
"Aku akan tetap menjadi hijau." jujur Perempuan.
"Aku dalam keseimbangan menjadi abu." nyata Lelaki.

Di luar lanskap sana ada ilalang saling bersenggama.
Siap menyambut mereka bersama senja.
Bercinta menari dengan anak jingga.
Menikmati inilah balada romansa.

Kekasih salah satu pemicu motivasi pada kebiasaan diri. Bersyukurlah bagi yang 'memiliki'. Berkarya bersama itu buat merasa merdeka. | V E R T