2.1.17

SEPOI

♫ Mondo Gascaro - Lamun Ombak (feat. Aprilia Apsari)


Terpejam melamun sesat. Tertuju pada ketidak bergeraknya diri. Menikmati diam dalam kebahagiaan duniawi. Disepoi nyiur yang siap menghempas kematian dini. Mungkin dengan mati, metafisika tak perlu diopinikan lagi. Manusia pun tak perlu repot menyombongkan kemanusiaannya pada manusia lain. Tak perlu juga memikirkan akan pengakuan bahwa manusia itu hidup bertanda kutip atau mati dalam tanda kurung.

Ah, terlalu jauh lamunan ini bersemilir dan berpeluk dengan udara. Kantuk mulai menyapa, tak segan ajak bercinta. Tak lupa keberadaan tanda tanya dibaliknya. Sebelumnya bertanya pada Aku,

"Kamu memegang teguh nikmat di antara lanskap indah di sini dan stagnansi tai kucing saat ini. Sudahkah menikmati kebosanan ini?"

1.1.17

MEKAR

♫ Danilla - Terpaut oleh Waktu

Terbangun diri memekar
Tetap remang yang kekar
Dan datar tertawa berkelakar

Batin membuka diri
Sadar berjarak dengan mentari
Masih ingin gantungkan diri
Berlabuh pada seuntai tali

Bersajak pun tetap ringkih,
Anak kalimatnya menyepi,
Belantara prosa lenyap pun mati

Sejenak hampiri lagi abu-abu
Dahulu setengah-setangah berbuah resah
Tampar diri kini menjadi baru
Harapnya selalu berakhir desah

29.10.16

Abhati

♫ Rihanna - Good Girl Gone Bad

Aku percaya ibanya sekular adalah untuk memanusiakan manusia. Sayangnya itu dulu sejak aku mempercayai apakah bentuk kebebasan itu hanya mitos belaka yang dilahirkan adat dan budaya. Aku sampai saat ini masih meyakini kesendirian dan ditinggalkan.

Terbahak aku menjawab dengan kata 'tidak' akan delusi makna indah. Metafor-metafor sajak hanya menutupi prosa-prosa suci susu sang ibu. Aku sempat berterima kasih, tetapi tuntutan akan pemahaman untuk memeluk theis masih kucari. Kelak mati mungkin saja menjadi bagian dari diri.

Refleksi anatomi diriku dipercaya untuk pantas dipercayai mereka yang mengurung retina dan gendang suaranya. Membiarkan sepertinya sama saja dengan menikam perlahan. Sampai suatu hari aku akan melihat bayak barisan nisan yang seolah bersinar dengan rentetan isak. Begitu jika aku menemukan batang-batang tali kekar, mereka hebat. Mampu menerkam tiap nadi yang menurutku tak perlu terlalu dipagari. Dengan senangnya berupa bangkai, aku merelakan mereka mencekik setiap kegaduhan pesakitanku. Aku menikmati.

Aku rasa, jangan menipu sang penipu berwujud surya. Tetap duduklah di sudut abu-abu. Tunggulah sampai ajal mengucap sapa di depan belantara semesta.



Bangsat.

14.4.16

Mengkal

♫ Basick & Paloalto - Nice Life

Bermengkallah jantung beserta anak cucu darahnya. Nadir berkata untuk lenyap. Senyap hendaknya menjadikan pertemanan untuk raga yang berdiam.

Omong beserta kosongnya  menyaring ke puncak jurang pertanyaan. Mengatur untuk diatur pun tak mampu. Bereaksi agar terjadi reaksioner kini untuk esok pun malah meluka. Luka berdupa agar sesaknya nyata.

Mungkin harapan digantung jauh-jauh mendekati atmosfer. Semakin tinggi, semakin dijauhi ekspektasi. Mungkin pula baiknya melukis tipis irisan-irisan garis statis. Bila nikmat, mungkin 'kan dilumat.

"Biar jadilah sebuah karya yang menjadi-jadi..."

13.4.16

Candala


♫ Luigi Rubino - Last Dance
Mungkin membiarkan tembok berhala itu retak, dudukku terbias memojok akan lebih terlihat berelok di mata Sang Keji. Makin termangu, makin terlihat dungu. Padahal sungguh, sayu di sini lebih kecut dari kecapnya.

Rendah di antara yang paling rendah. Dina di antara yang paling hina. Belanga di antara yang paling rusak sekalipun. Pun tahu bahwa gemercik sakit ini semakin hitam semakin mencaci. Tumbuhlah duri-duri di antara yang paling merasa suci. Selalu, repetisi.

Banyak di antara pembuat irisan miris ini menggubris perih. Jauh untuk bersuka tanpa tambahan 'ria'. Bodoh saja bertambah cemooh, di akhir sukar tanpa meniti. Menjahit rakitan ketenangan pun  jauh diraba pun bahkan ditata.

Ribuan hardik kerap yang kecil dibuat makin kecil. Dianggaplah berbangkai yang tak berbingkai. Yang masih berbayang di pelosok cela akan membesar. Perlukah untuk diluhurkan?