18.11.11

ADU diantara DUA

Semakin dini hari semakin otak kanan saya bangun dari hibernasi panjang. Entah hari ini sedang ada apa dan sedang bagaimana, emosi pun kembali bangun. Padahal dia tidak pernah hibernasi, namun selalu tegak berdiri bisa dikatakan iya. Emosi selalu bangun dan dia tidak pernah tidur ketika apa pun. Sangat hebat.

Berbeda dangan otak kanan, idealisme dan ideologi yang saya butuhkan kadang mereka sedang lelah dan sedang tertidur di bawah pohon imaji yang sudah lama dibangun. Hingga kini pohon tersebut masih terus tumbuh di alam bawah kedua otak kanan & otak kiri saya.

Dini hari ini ide kembali mengejar saya, hingga mengetuk keras otak kanan saya. Saya hanya bertepuk tangan dan tersenyum berombak tanda saya siap 'berbicara'. Entah miris atau tidak, tapi berbicara dengan kepingan huruf pun saya sudah berjingkrak.

Kini ide itu berceloteh tentang antonim disekitar. Situasi yang sering beradu. Adu apa pun itu. Adu mulut, adu otak hingga sebuah adu yang sedang terjadi sebelum menulis ini, adu persepsi dan opini suatu hal. Yah, itu memang sering terjadi di sekitar, maya atau pun nyata.

Kadang manusia yang entah harus menggambarkannya seperti apa, mereka sering dirajai oleh yang namanya emosi dan persefektif egosentris. Tapi saya memilih dari ke dua sisi, emosi dan egosentris saya gunakan untuk mengalahkan. Saya tidak menganggap mereka dari kedua itu sebagai 'raja' tapi mereka adalah budak saya. Budak untuk mengalah mereka yang terus menyerang idealisme dan ideologi saya.

Tapi saya tersadar, sebenarnya saya lebih merajakan logika. Dia yang dapat menyadarkan ketika saya yang sedang dibunuh oleh emosi dan egosentris. Logika mengajarkan saya untuk SEIMBANG seperti angka DUA yang saya kagumi.

Ketika dia, mereka dan mungkin kamu, menyerang idealisme dan ideologi saya, maka saya lebih baik mengakhiri dan tidak ingin terlibat kembali dalam perdebatan, meskipun saya picik 'saya-tidak-ingin-kalah', tapi baiknya saya tidak memilih dengan beberapa opini yang diberikan dalam suatu perdebatan.

Saya lebih baik mengalah yang bermakna bukan kalah. Mengalah pada saatnya saya merasa saya harus diam mengakhiri perdebatan dan tetap yakin berpegang teguh bahwa opini dan persepsi yang saya angkat adalah yang saya percaya. Saya menyanjung kebebasan. Tentunya kebebasan yang buat kedua belah pihak nyaman dengan arti bebasnya berpendapat, berproduktif untuk berbicara dan dapat bertanggung jawab atas kepercayaan yang keduanya yakini.

Peraduan seperti itu tidak akan hilang dan tidak akan pernah padam di sekitar saya beserta dia, kamu dan mereka. Saya menikmati segala perbedaan yang ada. Saya senang untuk menghargai setiap pendapat yang muntah ditelinga dan otak saya. Saya bahagia untuk memahami dan menghormati setiap perbedaan opini, persepsi dan prinsip setiap masing-masing pribadi.

Diantara semua peraduan itu saya terus pertekan, saya akan tetap dikelilingi angka dua. Saya tidak akan memilih untuk beradu. Saya akan menjadi dua untuk mengalah daripada terus bermulut! Saya senang menjadi pribadi merdeka tanpa harus memojokkan akan kekurangan dari pendapat masing-masing. Semuanya memiliki dua sisi atas semua persepsi universal yang dilontarkan. Saya percaya itu. Sangat percaya....

Kini ide sedang girang saya beri segelas kopi. | V E R T

2 comments:

  1. Adeuh nu maca tulisan urang nepi beak adeuuuh

    ReplyDelete